Keadaan yang lagi sensitif ini, kadang mau ngomong takut salah. Orang lagi mudahnya tersinggung. Beda pilihan mulai lagi ramai. Berita hoaks jadi seru lagi. Jika tidak pandai-pandai memfilter, isi kepala jadi mendidih. Emosi mudah tersulit, yang akhirnya terjadi amuk. Kemarahan yang tidak terkendalai, tapi tidak jelas apa yang dimarahkan. Wis pokoknya ngamuk dan misuh-misuh alias berkata kasar. Ya akhirnya menyesal kemudian tiada guna.
Dimedia ramai dengn timeline atau status-status berbau anyir politik. Kalau saya mah hanya bisa menyimak, karena memang dasarnya tidak tahu permasalahannya. Mana yang benar dan mana yang salah. Hanya jadi pemerhati saja. Kalau saya, jika tidak tahu ya berusaha saya jawab tidak tahu. Daripada sok tahu yang akhirnya justru menampakan kedunguannya. Alias kebodohannya. Ya, saya berharap semoga keadaan negeri ini baik-baik saja. Woih, saya belaguk sok mikirin negeri ya?
Sedangkan mikirin kebutuhan keseharian saja sungguh peningnya. Bagaimana caranya agar pendapatan bisa stabil, paling tidak selalu ada pemasukan. Kerja online lagi sepi, yang biasanya tawaran kerjasama berjubel, kejar deadline. Eh, kini sama sekali sunyi. Sedangkan pengeluaran justru semakin besar. Wah, jadi kayak pepatah, Besar Pasak daripada Tiang.
Yang namanya hidup, tugasnya hanya bekerja dan bekerja. Soal hasil, manusia tidak ada yang tahu. Bisanya hanya mengira-ngira dan menebak-nebak saja. Hanya sang Ilahi yang mengetahuinya. Ada rasa kecewa dan sedih, saat mendapatkan penghasilan minim (tidak sesuai dengan harapan), itu hal biasa. Sudah menjadi sifat basariah manusia. Hal manusiawi. Yang penting jangan terlalu bersedih dan putus ada. Tetap tersenyum dan terus berusaha bersyukur. Ini saya menggurui saya sendiri, mencoba untuk menghibur diri.
Ha ha ha...., ngomong saya kok jadi ngelantur. Ya ya ya, memang saya lagi bingung mau ngomong apa. Mau ngomong anak-anak jaman sekarang yang kalau berbicara menggunakan kata kasar. Kata kasar yang era dulu dianggap tabu, kini menjadi kata lumrah. Berbicara kata kasar tanpa memperhatikan lawan bicaranya. Nanti saya dikira pemerhati anak-anak, menyaingi KPAI.
Dah ah, saya mau ngomong kejadian kemarin saja. Ngomong yang rileks-rileks saja. Kemarin saya mendapatkan amplop yang berisi uang. Yang isinya bagi saya sangat besar. Bisa untuk membayar hutang. Benar lo, punya hutang itu terasa tersiksa. Harga dan martabat diri menjadi jeblok alias anjlok. Tapi bagaiman lagi, hutang itu kan termasuk rezeki, ya sedikit disyukuri saja jika punya hutang. Dengan punya hutang, kebutuhan hidup masih bisa dipertahankan. Keluarga masih bisa makan. Yang penting jika punya hutang berusaha untuk bertanggungjawab. Alias berusaha untuk melunasinya. Dan siapa tahu, yang dihutangi memberikan pelonggaran waktu.
Kejelasan ceritanya bagaimana? Orang datang dengan membawa enam botol minuman mineral, minta itu air botolnya untuk didoain. Wah wah, saya kok jadi mirip mbah dukun saja. Ada orang datang minta semburan doa. Saya menolak permintaan itu, karena saya tidak bisa dan saya bukan ahlinya. Tapi orang ini tetap memaksa, demi kesembuhan anaknya yang lagi deman.
Karena dipaksa terus, akhirnya saya menyerah. Saya doain itu air dengan kemampuan saya. Sedikit meniru gaya mbah dukun yang ada di televisi dan di youtube. Kelar komat-kamit membaca mantra-mantra, eh bukan membaca doa. Baru saya tiupkan di enam botol air meneral itu. Dengan harapan dan doa, semoga anak yang lagi sakit itu diberi kesehatan. Sang tamu pamit pulang dan sambil memberikan amplop berwarna putih. Memaksa saya harus menerimanya. Ya, dengan senang hati saya menerimanya. Dan saya ucapkan terimakasih.
Woih, isi amplopnya lembaran duit warna biru dan merah. Banyak amat. Antara senang dan malu jadi satu. Saya merasa tidak pantas menerimanya. Tapi, saya kok lagi butuh juga. Ya butuh buat bayar hutang dan makan. Aduh, saya jadi gimana gitu. Apakah ini yang namanya duit, kadang harus dicari dan kadang datang sendiri? Entahlah. Jangan-jangan saya cocoknya berprofesi sebagai dukun daripada menjadi seorang blogger? Ambuhlah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar