email: omkoodok@gmail.com

Cuan di Balik Debu: Bisnis Tanah Uruk Puing Jakarta Tumbuh Subur di Tengah Masifnya Renovasi


JAKARTA - Di Balik deru mesin ekskavator dan proyek gedung yang tak pernah berhenti di Jakarta, tersimpan potensi bisnis yang menjanjikan: tanah uruk puing. Bukan sekadar limbah konstruksi, sisa bongkaran bangunan kini bertransformasi menjadi komoditas bernilai tinggi yang dicari para pengembang properti. 

Mengapa Puing Menjadi Primadona 
Bagi para kontraktor, menggunakan tanah merah murni untuk pengurukan lahan Rawa atau peninggian bangunan di Jakarta sering memakan biaya besar. Di sinilah peran tanah uruk puing masuk sebagai alternatif yang lebih ekonomis. 
  • Harga Kompetitif: Tanah puing dijual jauh lebih murah dibandingkan tanah merah atau tanah pada.
  • Struktur Padat: Puing Beton dsn bata dinilai lebih cepat "mengunci" dan padat saat digilas alat berat, sehingga meminimalkan resiko ambles di lahan basah.
  • Logistik Efisiensi: Mengingat banyaknya proyek pembongkaran di pusat kota, pasokan puing selalu tersedia tanpa harus mendatangkan material dari luar daerah,  seperti Bogor atau Tangerang. 



Rantai Bisnis: Dari Bongkaran ke Urukan 
Bisnis ini tidak sesederhana membuang sampah. Para pemain di industri ini biasanya mengandalkan jaringan dengan jasa pembongkaran bangunan. 

"Dulu orang bingung buang puing harus bayar ke mana, sekarang justru kami yang jemput bola. Kami olah sedikit agar ukurannya seragam, lalu dikirim ke proyek pengurukan lahan di Jakarta Utara atau Barat, " ujar Pandi, salah satu penyedia jasa pengurukan di area Jakarta Utara. 

Satu truk engkel puing bersih saat ini dibanderol mulai dari Rp300.000 hingga Rp 400.000, tergantung jarak tempuh dan kualitas materialnya (campuran beton atau hanya bata merah).

Tantangan dan Regulasi 
Meski menggiurkan, bisnis ini memiliki tantangan tersendiri. Para pelaku usaha harus memastikan bahwa puing yang mereka jual adalah "puing bersih", artinya bebas dari sampah plastik, Kayu lapuk, atau zat kimia berbahaya yang dapat merusak kualitas tanah di masa depan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun mulai melirik tata kelola limbah konstruksi ini sebagai bagian dari konsep Circular Economy untuk mengurangi beban di TPS Batargebang.

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ARTIKEL SLIDE
 
Back To Top