Lapak Ramai, Pembeli Sepi
Berdasarkan pantauan di beberapa titik strategis, para penjaja uang baru yang membawa tumpukan plastik berisi pecahan Rp2.000 hingga Rp20.000 lebih banyak duduk terdiam menunggu pelanggan.
Salah satu penyedia jasa, Itho (40), mengaku penjualan turun drastis hingga 40% dibandingkan tahun lalu. "Biasanya H-7 Lebaran saya sudah bolak-balik ambil stok lagi. Sekarang, stok yang ada dari awal minggu pun belum habis setelah, " ujar dengan nada lesu.
Faktor Penyebab Lesunya Bisnis Uang Baru
Beberapa faktor ditengarai menjadi penyebab redupnya bisnis musiman ini:
- Digitalisasi ( QRIS dan Transfer): Masyarakat kini lebih gemar mengirim "THR" melalui dompet digital atau transfer bank. Selain lebih praktis, cara ini dianggap lebih aman karena tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar.
- Akses Perbankan yang Lebih Mudah: Program penukaran uang resmi dari Bank Indonesia (BI) dan perbankan konvensional yang makin masif, termasuk melalui kas keliling, membuat warga enggan membayar biaya admin (kurs) kepada penyedia jasa di pinggir jalan.
- Prioritas Pengeluaran: Kenaikan harga bahan pokok membuat masyarakat lebih memilih mengalokasikan dana untuk kebutuhan pangan dan transportasi mudik ketimbang menukarkan uang baru dengan biaya tambahan.
Tarif Admin yang Tak Lagi Menolong
Meskipun para penyedia jasa telah mematok tarif yang bersaing, rata-rata Rp10.000 hingga Rp15.000 per seratus ribu rupiah, hal tersebut belum cukup menarik minat warga. Sebagian besar pejalan kaki hanya melirik tanpa benar-benar berhenti untuk bertransaksi.
Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa pergeseran gaya hidup menuju cashless society mulai menyentuh sendi-sendi tradisi lebaran yang paling akar rumput sekalipun.
Catatan: Bisnis jasa penukaran uang di pinggir jalan juga memiliki risiko hukum terkait keaslian uang dan syariat (riba) yang sering menjadi pertimbangan masyarakat dalam bertransaksi.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar