Ketangguhan Seorang Kakek Penjual Mainan Pedang dari Bambu

Kakek Penjual Mainan Pedang dari Bambu

Sifat cemas, was-was dan takut selalu menghinggapi manusia. Saya pun juga mengalami hal serupa. Takut besok makan apa, takut lusanya kayak apa. Takut dan takut. Takut dengan kejadian esok. Sebenarnya hal itu lumrah. Hanya masalahnya bagaimana mengelola rasa takut itu tidak berlebihan. Dengan adanya rasa takut, justru akan memberi rasa semangat untuk lebih giat berusaha. Tidak menyia-nyiakan waktu yang ada. Termasuk kesehatan.

Kata guru saya. Tuhan harus ada di hati. Serahkan semua persoalan kepada Tuhan. Manusia hanya menjalani. Dan Tuhanlah yang menentukan segalanya. Pertolongan Tuhan itu sangatlah dekat. Tauhid harus benar-benar kuat dan tidak boleh ragu.

Ya ya, awalnya saya begitu kawatir tentang hari tua. Apakah saya mampu menghidupi diri sendiri. Apakah saya nanti masih bisa makan. Rezeki saya nanti bagaimana, apakah tetap lancar atau justru bambet. Seabrek pertanyaan ngumpul di kepala saya. Tapi itu dulu. Sekarang sudah pasrah sama Yang Maha Kuasa saja. Lagian ngapain saya membayangkan hari tua, besok pun saya belum tentu masih hidup. Menikmati hari sekarang itu lebih penting. Detik demi detik, saya syukuri.


Beberapa hari ini, saya mengamati seorang kakek yang berjualan pedang mainan dari bambu. Dimana dia berdagang selalu dikeroyok atau dirubungi anak kecil. Antrian ingin membeli pedang mainan begitu ramainya. Antriannya panjang. Saya pun dibuat keheran-heranan. Pedang dari bambu saja kok minat pembelinya membludak.

Satu pedang harganya dua ribu. Jika dimodif dan dikasih sarung pedang harganya lima ribu. Omset seharinya bisa ratusan ribu. Bahkan kakek itu belum sempat menghitung pemasukan uang kemarin. Saya sempat ditunjukin uang di kantong plastiknya. Keuntungan seharinya bisa mencapai dua ratus ribu lebih. Wah banyak sekali, batin saya.

Sedangkan bahan pedang mainan sangat sederhana sekali. Bahan utamanya bambu, spon yang nanti digunakan untuk sarung pedang dan sabuknya. Lem aibon, benang wool dan steples. Kakek tersebut begitu lincah dan lihai sekali. Tangan keriputnya mahir membentuk bahan spon menjadi sarung pedang. Tawa ramah dan kesabaran dalam melayani anak-anak. Saya kagum dengan kakek asal Cirebon ini.

Related Posts

7 komentar

  1. Mengisnpirasi sekali ya, Mas.
    Saya dulu juga berpikiran begitu. Hanya saya yakinkan diri saya, kalau selama saya berusaha, Insya Allah Allah kasih rezeki.

    BalasHapus
  2. Luar biasa kakek dengan sabar ngelayani fans beratnya :)

    BalasHapus
  3. Jadi ingat waktu kecil pernah beli pedang bambu, sekarang kayaknya udah langka deh ya...

    Kalo Tuhan sudah di dalam hati, ya mungkin implementasinya kayak kakek di atas, tetap mencari rezeki halal, walau tenaganya sudah gak kuat kayak waktu muda dulu. Si kakek juga menghindari untuk meminta-minta, hal yang dilarang di dalam Islam... Nice sharing Mas 👍

    BalasHapus
  4. Satu lagi, hadapi semua dengan tersenyum. Seperti bapak itu. yang terlihat bahagia meski cuma jualan pedang-pedangan.

    BalasHapus

 
Back To Top