Keanehan pada Tanggal 10 Muharram


Keanehan pada Tanggal 10 Muharram

Di Bulan Muharram (Kalender Hijriyah), tapi saya lebih suka menyebutnya Bulan Suro. Kalau orang jawa bulan muharram lebih terkenalnya dengan bulan suro. Kata Suro sendiri masih terjadi simpang siur. Aneka pendapat. Ada yang mangatakan kata suro diambil dari kata Assyuro, suatu peristiwa bersejarah Karbala yang terjadi pada 10 Muharram. Dan ada yang mengatkan kata Suro, mempunyai makna Su=lebih baik dan Ro= yang berasal dari kata Rogo (Raga). Sehingga Suro mempunyai arti Raga atau tubuh yang baik. Titik penyempurnaan jasad. Seperti halnya Muharam yang mempunyai makna puncak atau awal bulan Hijriyah. Maka diperlukan pembersihan atau mandi demi kesucian tersebut.

Kalau umat islam punya penanggalan/kalender yang diberi nama Kalender Hijriyah. Kalau masyarakat jawa, khususnya jawa tengah juga punya kalender yang terkenal dengan nama Kalender Jawa. Yang diterbitkan oleh Sultan Agung.

Bulan Suro, bagi orang jawa adalah bulan yang benar-benar dikeramatkan. Maka dibulan Suro, masyarakat jawa tidak berani mengadakan hajatan pernikahan. Menjadi pantangan, sampai saat ini sepertinya belum ada yang berani melanggar. Bulan Suro adalah bulan yang begitu suci, dan hanya lingkungan keratonlah yang berhak punya pegawean/kegiatan besar. Maka dari itulah, masyarakat kecil tidak berani membuat tandingan. Jadi bukan karena takut sama itu Ratu Nyi Roro Kidul.

Saya pun sampai saat ini masih punya keunikan dan keanehan tersendiri kalau menyambut bulan 10 Muharram. Bersih-bersih pusaka atau ajimat. Benda-benda keramat yang Om Koodok miliki berasal dari warisan leluhur atau pemberian teman. Ada yang berupa keris besar, keris kecil yang berbentuk semar, akik, sabuk dan rompi. Ajimat itu apa artinya? Ajining barang perlu dirumat. Benda perlu dirawat agar terjaga atau terhindar dari kerusakan.

Tapi diantara pusaka itu yang paling Om Koodok sukai adalah sebilah keris peninggalan kakek. Mungkin usia keris itu sudah mencapai ratusan tahun. Dan Alhamdulillah masih terawat dengan baik. Kenapa pusaka atau ajimat harus dimandikan? Ini sebenarnya hanya soal kebersihan saja. Bukan menyangkut yang namanya musrik atau sirik. Pusaka ajimat dibersihkan/dimandikan untuk menghilangkan kotoran, entah itu debu atau kerak karat. Terus bunga fungsinya buat apa? Ajimat biar wangi. 

Related Posts

7 komentar

  1. abis dimandiin jadi hhmmm wangi.

    BalasHapus
  2. mungkin biar tambah wangi tambah parfum mas. yng non alkohol

    BalasHapus
  3. Biar wangi dikasih bunga, jadi mikir kenapa gak pakai parfum aja, hehehe.

    BalasHapus
  4. Jadi pas bulan Suro Om Koodok pasti sibuk nih...

    BalasHapus

 
Back To Top